Kerbau Saijah dan Adinda

(kompas.com) Kamis, 8 Mei 2008 | 16:11 WIB BOLEH mencerca dan silakan menghina kerbau. Meski, hewan terstigma dungu dengan cucukan tali di hidungnya adalah harta paling berharga keluarga Saijah. Ironis, di tangan bangsanya sendiri, Saijah meregang nyawa persis ketika kerbau itu berpindah tangan secara paksa.
 
Inilah kisah pilu drama Saijah dan Adinda pada bab 6 buku Max Havelaar  of de Koffieveillingen der Nederlandsche Handelmaatschappij atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda karangan Multatuli. Roman buah karya Eduard Douwes Dekker, nama asli Multatuli, terbit pada 1860.  Sementara, HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa aslinya Belanda ke dalam Bahasa Indonesia pada 1972. Pada, 1973 buku tersebut dicetak ulang.
 
Roman yang cuma sebulan diselesaikan Multatuli di sebuah losmen di Belgia pada 1859 ini jelas memotret nasib buruk rakyat yang dijajah. Sampel nyatanya, sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputera di daerah Lebak, Banten.
 
Di dalam roman yang difilmkan pada 1976 ini, memang tak termaktub kata “korupsi”. Cuma, justru di roman inilah terpampang kisah tentang  penguasa yang korup. Pelakunya, mulai dari penguasa berkulit putih hingga yang berkulit coklat.
 
Soal kelaliman itu pulalah yang dipetik sebagai inspirasi kebangkitan pergerakan kebangsaan di Tanah Air. Sebelumnya, Max Havelaar-lah yang membuat pemerintah penjajah Belanda menggelontorkan berbagai upaya menyejahterakan para inlander lewat politik etis. Di Negeri Kincir Angin pun, kala itu, perilaku korup berikut pelaku korupsi lambat laun dikikis habis.
 
Sebaliknya, di Hindia Belanda, politik etis memang membangkitkan kesadaran bumiputera untuk mengangkat dirinya ke harkat yang lebih baik, lebih bermartabat. Tanpa korupsi, tentunya.
 
Maka, kalau 1908, 1928, bahkan 2008 adalah catatan monumental bagi perkembangan Bangsa Indonesia hingga kini, tentunya pengalaman para pendahulu adalah pelajaran tak ternilai, mencabut korupsi dari akar-akarnya.
 
Mari berlari ke abad milenium, masih di negeri berlatar demokrasi ini. Mari menyimak penggalan demi penggalan cerita masih hangat soal seteru berlatar korupsi antara pemberantas korupsi di satu sisi dengan mereka yang mempertahankan korupsi di sisi seberang. Alih-alih lenyap, sekarang, korupsi malah marak. Pedihnya, pada detik ini pula, banyak dari kita masih bisa menyaksikan drama Saijah dan Adinda langsung di depan mata.

Tanggapi posting ini